Di Perbatasan Musim

Antara kata-kata itu
hening mencelah
ombak mendebur
meragut butiran pasir
yang tadinya tersangkut di kain labuhmu.

‘Masa hadapan,’ ucapku (mataku memandang
batang kayu yang teroleng-oleng),
‘seperti dahan patah
dibawa gelombang yang pecah.’

Bila payungmu disambar angin
sebidang bayangmu mula tersingkap
daripada kesedaran terhadap takdir
dan ketidakrelaan untuk menadahnya
bagai buih-buih yang bergelut
di gigi bebatu
kekal dihadang kelibat tubuhku.

Berada di tengah lautan manusia
atau samudera saujana,
tiada yang dapat membezakan
riuh-rendah dan keasingan
di perbatasan musim tanpa rasa
saat kepastian memangkas dada.

.
Rifhan Rasuli, Julai 2011
Taman Negara Teluk Bahang

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.