Perspektif

Wajahmu terlindung di sebalik daun berguguran

perspektif – dari sudut ini satu potret bagai terlakar.

 

Bukankah hebat? Aku dapat mengucapkan bait-bait puisi

hanya dengan melihat suasana sebegini

– tetaplah bernafas, dan aku

akan tetap mampu menyusun perkataan

untuk menghuraikan segala-galanya.

 

Setelah daun itu mencapai ke bumi

sinar wajahmu bakal muncul kembali.

 

Penyair yang mencari –

tugasku cuma menceritakan setiap detik

yang terlintas dan tersirat di pinggir waktu;

selalunya tidak lebih daripada itu.

 

Dan kemudian baru aku fahami

maksud kata-kata itu;

buka, buka pintu masa

yang membawa dirimu ke pangkal nostalgia.

 

Buka, buka pintu hati

yang terkunci dalam lingkungan rasa.

 

 

Rifhan Rasuli, Februari 2010

Dublin

 

Advertisements

1 Komen »

  1. CempakaUngu Said:

    Barusan diri bertandang ke wordpress saudara.

    Terpikat hati dengan bait kata dan susun melankoliknya. Indah!

    Dan akan lebih indah bila ia hasil dari hati yang berbicara


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: